Ada Perang Saraf di Otak Saat Orang Berbelanja

Jakarta, Berbelanja adalah kegiatan yang menyenangkan dan bisa menghilangkan stres terutama bagi kaum perempuan. Tapi saat orang berbelanja ternyata ada perang di otak.

Peneliti menemukan adanya tarikan perang saraf di otak ketika seseorang berbelanja. Belanja merupakan suatu kegiatan yang melibatkan interaksi berbagai faktor mulai dari genetik sampai tata letak dari suatu mal. Faktor-faktor ini mempengaruhi dorongan seseorang untuk membeli sesuatu.

Penelitian yang dipimpin oleh ahli saraf Profesor Brian Knutson dari California menuturkan adanya tarikan perang saraf di otak ketika seseorang berbelanja. Hasil penelitiannya dilaporkan dalam jurnal Neuron.

Hal yang terjadi di otak dan memainkan peran sentral ketika berbelanja adalah meningkatnya produksi neurotransmitter dopamin, yaitu respon menyenangkan yang berhubungan dengan makanan dan seks.

Tapi saat seseorang memikirkan harga dari barang tersebut otak akan mengaktifkan insula, yaitu suatu bagian dari korteks otak besar yang memainkan peran untuk merenungkan kerugian (untung ruginya).

"Ketika seseorang memutuskan untuk membeli sesuatu, maka ia akan membuat keputusan emosional dan rasional. Seseorang memiliki keinginan untuk percaya bahwa ia membuat keputusan yang rasional, walaupun kenyataanya tidak. Hal ini yang menyebabkan terjadinya perang saraf di otak," ujar psikolog Adam Ferrier, seperti dikutip dari ABC.net.au, Kamis (13/1/2011).

Berdasarkan laporan dalam Journal of Consumer Research apapun barang yang dipilih oleh seseorang baik saat membeli cokelat atau mobil sekalipun semuanya dipengaruhi oleh faktor genetik.

Selain itu jenis kelamin juga memberikan perbedaan dalam berbelanja. Perempuan memiliki afinitas pemikiran yang besar saat berbelanja, karenanya ia akan berjalan santai di setiap toko, memeriksa barang, membandingkan produk dan nilainya, berinteraksi dengan staf penjual, mengajukan pertanyaan, mencobanya hingga akhirnya melakukan pembelian.

Sedangkan pada laki-laki memiliki pemikiran yang berbeda, umumnya ia sudah tahu apa yang diinginkannya sehingga langsung mencari barang tersebut serta memiliki sedikit kesabaran untuk browsing.

Namun seseorang sebaiknya tidak belanja terlalu berlebihan, meskipun belanja bisa membakar kalori yang cukup besar tapi gila belanja termasuk kategori gangguan mental.
READ MORE - Ada Perang Saraf di Otak Saat Orang Berbelanja

Merasa Tubuh Sudah Mati Karena Sindrom Cotard

Jakarta, Kematian manusia ditandai dengan matinya sel-sel dalam tubuh dan diikuti dengan kematian organ lainnya. Tapi orang dengan sindrom Cotard menganggap dirinya sendiri sudah mati, meski tidak ada tanda-tanda tersebut.

Sindrom Cotard atau yang dikenal juga denganWalking Corpse Syndrome (WCS) merupakan salah satu kelainan neuropsikiatrik yang jarang terjadi. Penderita penyakit ini akan merasa bahwa ia sudah mati dan tidak ada di dunia lagi.

Selain itu, orang dengan sindrom Cotard juga merasa bahwa ia sudah kehilangan darah atau organ internalnya serta bagian-bagian tubuh yang sudah membusuk, padahal sebenarnya orang tersebut tidak kehilangan apapun.

Sindrom ini diberi nama sesuai dengan penemunya, yaitu Jules Cotard, seorang neurolog Perancis yang menemukan kasus unik ini pada 1880. Kondisi ini bisa berasal dari faktor neurologis atau mental, terutama penyakit mental yang berhubungan dengan depresi.

Penyakit ini juga telah dikaitkan dengan gangguan lain seperti skizofrenia dan gangguan bipolar. Selain penyakit mental, penyakit ini dapat terjadi ketika ada masalah dengan otak, seperti cedera pada kepala.

Seperti dilansir dari WrongDiagnosis, Kamis (17/6/2010), gejala-gejala sindrom Cotard adalah sebagai berikut:
  1. Depresi
  2. Memiliki pikiran untuk bunuh diri
  3. Selalu berpikiran negatif
  4. Percaya bahwa tubuhnya sudah tidak ada dan sudah mati
  5. Percaya tubuhnya tidak memiliki darah, organ internal dan membusuk
Karena sindrom Cotard sangat langka, maka belum ada perawatan yang tepat untuk mengatasi penyakit aneh ini. Banyak psikiater telah mencoba terapi antipsikotik, tapi tampaknya tidak bekerja.

Namun, ada empat kasus yang telah dibantu dengan menggunakan terapi elektrokonvulsif. Terapi elektrokonvulsif adalah terapi listrik dengan menggunakan elektroda yang dilekatkan pada bagian atas kepala dan dapat menyebabkan kejang. Terapi ini juga digunakan dalam kasus depresi yang sangat parah.

(mer/up)
READ MORE - Merasa Tubuh Sudah Mati Karena Sindrom Cotard

Sel-sel Tubuh Bunuh Diri Biar Manusia Panjang Umur


Jakarta, Bunuh diri bukan cuma perbuatan nekat manusia. Tahukah Anda, sel-sel tubuh pun melakukan aksi bunuh diri (celluler suicide) setiap hari agar manusia bebas penyakit dan panjang umur.

Bunuh diri sel-sel ini dinamakan apoptosis yang merupakan suatu proses yang sudah diprogram untuk kehancuran sendiri sel-sel.

Apoptosis ini turut membantu membentuk ciri-ciri fisik dan organ tubuh sebelum seseorang dilahirkan. Serta membantu tubuh mengeliminasi sel-sel yang tidak dibutuhkan atau berpotensi bahaya.

Se-sel ini melakukan bunuh diri untuk mendukung sistem kekebalan tubuh. Sel-sel ini akan bunuh diri dengan cara berani mati melawan virus-virus sebelum menyerang tubuh.

Pengorbanan sel-sel inilah yang bisa menghambat penyebaran virus dan menyelamatkan seluruh organisme, seperti dikutip dariLiveScience, Rabu (2/3/2011).

Sel-sel di tubuh dilengkapi petunjuk dan cara untuk melakukan bunuh diri. Petunjuk ini disebut dengan protease yang akan memberikan sinyal bagi sel untuk mati.

Selama proses bunuh diri, sel akan menyusut dan menarik diri dari lingkungannya. Kemudian permukaan sel akan tampak seperti air mendidih dengan beberapa fragmen melepaskan diri.

DNA yang berada di dalam inti sel akan pecah menjadi beberapa bagian yang sama rata, lalu inti sel tersebut akan hancur dengan sendirinya diiukuti oleh seluruh bagian sel.

Selanjutnya sel-sel fagosit (sel imun) akan membersihkannya dengan cara menelan dan membuang sel-sel mati ini.

Kematian sel ini bisa dengan cara bunuh diri dan juga tidak direncanakan (nekrosis). Nekrosis merupakan suatu respons yang tidak direncanakan akibat adanya tekanan yang luar biasa seperti cedera traumatik atau terkena racun. Kondisi ini biasanya terjadi pada sel-sel jantung saat serangan atau sel paru-paru yang mengalami pneumonia.

Untuk menyeimbangkan sel-sel yang bunuh diri ini, maka tubuh juga melakukan pembelahan sel (mitosis) untuk membuat sel-sel baru. Apoptosis dan mitosis ini akan bekerja sama untuk membuat tubuh sehat, karena sel-sel yang baru akan menggantikan sel lama yang sudah usang sehingga membuat jaringan tetap sehat.

(ver/ir) 
READ MORE - Sel-sel Tubuh Bunuh Diri Biar Manusia Panjang Umur

Tampak Lebih Tua Tidak Selalu Berarti Kurang Sehat


Toronto, Beberapa orang memiliki tampang 'boros', yang berarti penampilannya tampak lebih tua dibanding usia sebenarnya. Hal itu tidak selalu menandakan kondisi kesehatan yang buruk, kecuali jika perbedaan kesan itu mencapai 10 tahun lebih tua dari usia sebenarnya.

Hal ini diungkap oleh para peneliti dari St Michael's Hospital di Toronto. Partisipan yang terlibat dalam penelitian itu meliputi 58 dokter praktik serta 126 orang berusia 30 hingga 70 tahun yang menjalani rawat jalan di rumah sakit tersebut.

Kondisi kesehatan para pasien diamati dari berkas rekam medis, sedangkan wajahnya difoto satu persatu. Gambar-gambar wajah itu kemudian diperlihatkan secara acak kepada 58 dokter, untuk selanjutnya diberi penilaian kira-kira berapa tahun usianya.

Ketika dibandingkan, pasien yang usia sebenarnya berbeda 5 tahun dari perkiraan para dokter relatif tidak memiliki masalah kesehatan yang cukup serius. Bisa dikatakan kesan lebih tua itu bukan disebabkan oleh kondisi kesehatannya.

Sedangkan para pasien yang menurut para dokter tampak 10 tahun lebih tua, 99 persen di antaranya berada dalam kondisi kesehatan yang buruk. Sayangnya, laporan hasil penelitian yang dimuat di Journal of General Internal Medicine tidak menyebut lebih detail kondisi macam apa saja yang membuat pasien tampak lebih tua.

"Wajah yang tampak lebih tua dari usia sebenarnya memang berhubungan dengan kondisi kesehatan. Tetapi itu hanya berlaku jika selisihnya mencapai 10 tahun atau lebih," ungkap salah seorang penelti, Dr Stephen Hwang seperti dikutip dari Science Daily, Minggu (7/11/2010).

Kesimpulan ini meluruskan pandangan orang selama ini, bahwa penuaan dini selalu menunjukkan kondisi kesehatan yang buruk. Ketika ada orang yang tampak sedikit lebih tua dari aslinya, maka kesan yang muncul adalah orang itu tidak sehat.

(up/ir)
s � d - 7 �/5 AR-SA'>

"Ponsel pribadi Anda nanti akan bisa jadi ponsel dokter yang bisa mendiagnosa salah satu dari berbagai penyakit kelamin, sehingga Anda bisa dengan mudah mendapatkan pengobatan," jelas Dr Tariq Sadiq, pemimpin studi dan konsultan dokter kesehatan seksual dan HIV di St George's, University of London, seperti dilansir Guardian, Senin (8/11/2010).

Menurut Dr Sadiq, perangkat 'tes diri' ini memang cocok ditujukan untuk orang-orang muda yang tanggap teknologi.

"Saya khawatir banyak anak muda yang malu datang ke dokter atau klinik untuk memeriksakan penyakitnya, sehingga bisa membuat penyakit kelamin yang dideritanya semakin parah dan menjadi tak bisa diobati," jelas Dr Sadiq.

Ahli kesehatan seksual berharap perangkat ini akan membantu mengurangi pertumbuhan jumlah penderita penyakit seksual yang telah meningkat selama sepuluh tahun terakhir, khususnya pada kalangan anak muda dibawah usia 25 tahun.

Peneliti juga berencana melakukan pengujian cepat dan berharap perangkat ini segera bisa dipasarkan di banyak tempat umum layaknya kondom, seperti di klub malam, apotek dan supermarket.

"Ini merupakan penelitian yang menarik dan pengembangan konsorsium (usaha bersama) yang akan mengembangkan teknologi baru yang baik untuk meningkatkan dan memperluas pengujian penyakitkelamin," Prof Noel Gill, kepala HIV dan IMS di Health Protection Agency.


READ MORE - Tampak Lebih Tua Tidak Selalu Berarti Kurang Sehat

Penyakit Kelamin akan Bisa Dideteksi dengan Ponsel

London, Penyakitkelamin mulai banyak menyerang kalangan anak muda, tapi banyak yang malu berkonsultasi dengan dokter meski sudah curiga dengan gejala-gejalanya. Nah, sebentar lagi akan ada ponsel yang bisa dengan mudah mendeteksi penyakit kelamin.


Tingginya laju penularan infeksi HIV dan penyakit kelamin membuat dokter dan ahli teknologi mengembangkan perangkat kecil mirip alat tes kehamilan, yang akan memberitahu seseorang dengan cepat dan pribadi tentang infeksi penyakit kelamin yang menginfeksi melalui hubungan seksual.

Perangkat ponsel ini akan segera hadir untuk dapat mendiagnosa infeksi menular seksual (IMS) melalui program inovatif untuk memotong laju penularan herpes, klamidia dan gonore (kencing nanah) di kalangan anak muda.

Dengan menggunakan alat ini, orang yang curiga terinfeksi dapat menempatkan urine atau air liur ke chip komputer seukuran chip USB, yang kemudian dihubungkan dengan ponsel atau komputer untuk menerima diagnosa dalam beberapa menit.

"Ponsel pribadi Anda nanti akan bisa jadi ponsel dokter yang bisa mendiagnosa salah satu dari berbagai penyakit kelamin, sehingga Anda bisa dengan mudah mendapatkan pengobatan," jelas Dr Tariq Sadiq, pemimpin studi dan konsultan dokter kesehatan seksual dan HIV di St George's, University of London, seperti dilansir Guardian, Senin (8/11/2010).

Menurut Dr Sadiq, perangkat 'tes diri' ini memang cocok ditujukan untuk orang-orang muda yang tanggap teknologi.

"Saya khawatir banyak anak muda yang malu datang ke dokter atau klinik untuk memeriksakan penyakitnya, sehingga bisa membuat penyakit kelamin yang dideritanya semakin parah dan menjadi tak bisa diobati," jelas Dr Sadiq.

Ahli kesehatan seksual berharap perangkat ini akan membantu mengurangi pertumbuhan jumlah penderita penyakit seksual yang telah meningkat selama sepuluh tahun terakhir, khususnya pada kalangan anak muda dibawah usia 25 tahun.

Peneliti juga berencana melakukan pengujian cepat dan berharap perangkat ini segera bisa dipasarkan di banyak tempat umum layaknya kondom, seperti di klub malam, apotek dan supermarket.

"Ini merupakan penelitian yang menarik dan pengembangan konsorsium (usaha bersama) yang akan mengembangkan teknologi baru yang baik untuk meningkatkan dan memperluas pengujian penyakitkelamin," Prof Noel Gill, kepala HIV dan IMS di Health Protection Agency.


READ MORE - Penyakit Kelamin akan Bisa Dideteksi dengan Ponsel
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...